Selasa, 31 Juli 2012

Puisi


KOTAKU PONOROGO

Ponorogo…
Kotaku yang lestari…
Kotaku yang asri…
Kotaku yang indah…

The Last Hope Part 8


Tibalah saat esok hari yang sangat dinantikan Oxi. Ia ingat semalam ia menyusun rencana. Misinya hanyalah untuk mempermalukan Bryan dengan menunjukkan sifat aslinya. Pertanyaan yang akan diajukan harus dibuat kru syuting sendiri. Kesempatan ini yang ia ambil untuk mengerjai Bryan. Secara sengaja menjilat teman krunya yang bertugas memampung pertanyaan dari semua kru. Oxi bersedia menangani urusan pertanyaaan ini sendiri. Temannya itu terlena, ia pikir tugasnya akan selesai begitu saja. Ia salah, Oxi tentu akan merubah isi semua pertanyaan itu.
Di sesi pertama, hanya ada pengenalan. Jadi sejauh ini Bryan masih aman.

The Last Hope Part 7


Oxi harus kembali ke lokasi awal. Ia harus berpisah dengan Frans. Frans akan memulai kesibukannya sendiri. Tapi sebelumnya mereka sudah berpamitan baik-baik. Jadi diharapkan komunikasi mereka tetap berjalan sebagai teman. Di lokasi ini Oxi kembali dipusingkan oleh Bryan.
Banyak adegan yang sudah terselesaikan, tiba saatnya Oxi beradegan kissing dengan Bryan. Tentu sebelumnya ia menolak. Tapi ini sudah tertulis di kontrak, ia harus melakukannya. Sebenarnya ia belum tahu kalau Bryan yang akan menjadi lawan mainnya saat ia menerima tawaran itu. Walaupun itu bukan Bryan sekalipun ia harus benar-benar melakukannya. Demi profesionalisme. Mulanya ia begitu kesal, tapi lama-kelamaan ia bisa menenangkan diri. Hanya sekali ini, ia harus melakukan yang terbaik agar ia tak harus mengulanginya.

Minggu, 17 Juni 2012

The Last Hope Part 6


Fajar telah muncul. Oxi baru bisa tidur beberapa menit, ia sudah terbangun. Rasanya sangat malas untuk bangun. Pagi ini syuting sudah di mulai kembali. Ia harus bersiap. Manager membawakan sarapan khusus untuk Oxi. Sepertinya Manager Ma bisa menebak kalau Oxi pagi ini tak mau turun untuk makan pagi bersama. Setelah mandi dan bersiap, Oxi menghampiri Manager untuk makan paginya.
“ Terima kasih Manager,” ia tersenyum tipis.
“ Sama-sama. Kau masih tampak lelah. Apa kau baik-baik saja?”
“ Hm,.. tentu,” jawabnya sambil mengunyah sereal.
“ Aku tidak percaya. Sini kulihat,” tangannya meraih dahi Oxi. Dan terkejut mengetahui kalau ternyata Oxi agak panas.
“ Kau demam?”

The Last Hope Part 5


Celaka! Setelah Bryan berjalan jauh menyusuri pantai, akhirnya menemukan Oxi tapi dalam keadaan bersama pria lain. Malahan sedang digendong. Bryan sangat kesal. Dia menghampiri mereka. Ia menatap tajam mereka berdua. Oxi takut dan hanya menyembunyikan wajahnya di balik bahu Frans.
“ Oxi!! Turun sekarang.” perintah Bryan. Oxi menurut saja. Ia turun. Ia menatap Frans. Tapi Frans sepertinya mengerti isyarat dari Oxi. Ia tahu keadaan mereka sekarang.
Bryan menarik Oxi dari samping Frans, “ ayo ikut!”
“ Tidak! Ia akan tetap bersamaku,” Frans kembali menarik Oxi.
“ Hei! Siapa kau ini? Kau bukan siapa-siapa dalam urusan kami.”
“ Urusan? Urus di sini sekarang juga!”

The Last Hope Part 4


Karena sedih, ia kembali ke lokasi di pantai. Lebih baik ia menghabiskan waktu di sana, berharap  bisa melupakan semua kejadian dengan Bryan tadi. Di perjalanan menuju pantai, Oxi terus-menerus menangis. Ia masih tak percaya yang terjadi hari ini. Bryan yang ia kenal bukannya seperti ini. Ia sangat amat sedih sekarang.
Sampai di lokasi di pantai. Ia langsung masuk penginapan dan tidur di kamarnya. Pikirnya dengan tidur bisa meringankan beban hatinya. Tapi ia salah, sampai mimpipun rasa itu terus mengikutinya. Ia bermimpi terus mengulangi kejadian tadi dan malah jadi lebih buruk.

The Last Hope Part 3


Oxi terduduk melamun saat menatap laut yang luas. Harusnya ia memasang ekspresi terkesima lalu mendadak ia menangis bahagia sekaligus sedih karena belum menemukan kakaknya sesuai dengan naskah yang ada. Sekarang ia malah melamun, tatapannya kosong, tak sepatah katapun terucap dari bibirnya. Anehnya Sutradara Shin tidak menghentikan pengambilan gambar. Ia berkata pada Kameramen untuk tetap mengambil gambar.
“ Sutradara, bagaimana ini?”
“ Lanjutkan.”
“Apakah tidak sebaiknya cut saja?”
“ Tidak. Terus ambil gambarnya.”
“ Baiklah.”
Sekitar sepuluh menit kemudian, barulah sang Sutradara menghentikan pengambilan gambar.
“ Yak, cut!”