Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 November 2012

Cerpen : Berawal Dari Singkong


Lima tahun yang lalu,
Sakti sedang mengayuh sepeda tua milik bapaknya. Walau di tengah hujan, ia tetap melaju. Tujuannya hanya satu yaitu mengikuti ujian nasional. Susah payah orang tuanya membanting tulang agar ia dapat bersekolah. Ia berharap dengan mengenyam pendidikan, ia dapat meraih cita-citanya kelak di masa depan.

Selasa, 31 Juli 2012

The Last Hope Part 8


Tibalah saat esok hari yang sangat dinantikan Oxi. Ia ingat semalam ia menyusun rencana. Misinya hanyalah untuk mempermalukan Bryan dengan menunjukkan sifat aslinya. Pertanyaan yang akan diajukan harus dibuat kru syuting sendiri. Kesempatan ini yang ia ambil untuk mengerjai Bryan. Secara sengaja menjilat teman krunya yang bertugas memampung pertanyaan dari semua kru. Oxi bersedia menangani urusan pertanyaaan ini sendiri. Temannya itu terlena, ia pikir tugasnya akan selesai begitu saja. Ia salah, Oxi tentu akan merubah isi semua pertanyaan itu.
Di sesi pertama, hanya ada pengenalan. Jadi sejauh ini Bryan masih aman.

The Last Hope Part 7


Oxi harus kembali ke lokasi awal. Ia harus berpisah dengan Frans. Frans akan memulai kesibukannya sendiri. Tapi sebelumnya mereka sudah berpamitan baik-baik. Jadi diharapkan komunikasi mereka tetap berjalan sebagai teman. Di lokasi ini Oxi kembali dipusingkan oleh Bryan.
Banyak adegan yang sudah terselesaikan, tiba saatnya Oxi beradegan kissing dengan Bryan. Tentu sebelumnya ia menolak. Tapi ini sudah tertulis di kontrak, ia harus melakukannya. Sebenarnya ia belum tahu kalau Bryan yang akan menjadi lawan mainnya saat ia menerima tawaran itu. Walaupun itu bukan Bryan sekalipun ia harus benar-benar melakukannya. Demi profesionalisme. Mulanya ia begitu kesal, tapi lama-kelamaan ia bisa menenangkan diri. Hanya sekali ini, ia harus melakukan yang terbaik agar ia tak harus mengulanginya.

Minggu, 17 Juni 2012

The Last Hope Part 6


Fajar telah muncul. Oxi baru bisa tidur beberapa menit, ia sudah terbangun. Rasanya sangat malas untuk bangun. Pagi ini syuting sudah di mulai kembali. Ia harus bersiap. Manager membawakan sarapan khusus untuk Oxi. Sepertinya Manager Ma bisa menebak kalau Oxi pagi ini tak mau turun untuk makan pagi bersama. Setelah mandi dan bersiap, Oxi menghampiri Manager untuk makan paginya.
“ Terima kasih Manager,” ia tersenyum tipis.
“ Sama-sama. Kau masih tampak lelah. Apa kau baik-baik saja?”
“ Hm,.. tentu,” jawabnya sambil mengunyah sereal.
“ Aku tidak percaya. Sini kulihat,” tangannya meraih dahi Oxi. Dan terkejut mengetahui kalau ternyata Oxi agak panas.
“ Kau demam?”

The Last Hope Part 5


Celaka! Setelah Bryan berjalan jauh menyusuri pantai, akhirnya menemukan Oxi tapi dalam keadaan bersama pria lain. Malahan sedang digendong. Bryan sangat kesal. Dia menghampiri mereka. Ia menatap tajam mereka berdua. Oxi takut dan hanya menyembunyikan wajahnya di balik bahu Frans.
“ Oxi!! Turun sekarang.” perintah Bryan. Oxi menurut saja. Ia turun. Ia menatap Frans. Tapi Frans sepertinya mengerti isyarat dari Oxi. Ia tahu keadaan mereka sekarang.
Bryan menarik Oxi dari samping Frans, “ ayo ikut!”
“ Tidak! Ia akan tetap bersamaku,” Frans kembali menarik Oxi.
“ Hei! Siapa kau ini? Kau bukan siapa-siapa dalam urusan kami.”
“ Urusan? Urus di sini sekarang juga!”

The Last Hope Part 4


Karena sedih, ia kembali ke lokasi di pantai. Lebih baik ia menghabiskan waktu di sana, berharap  bisa melupakan semua kejadian dengan Bryan tadi. Di perjalanan menuju pantai, Oxi terus-menerus menangis. Ia masih tak percaya yang terjadi hari ini. Bryan yang ia kenal bukannya seperti ini. Ia sangat amat sedih sekarang.
Sampai di lokasi di pantai. Ia langsung masuk penginapan dan tidur di kamarnya. Pikirnya dengan tidur bisa meringankan beban hatinya. Tapi ia salah, sampai mimpipun rasa itu terus mengikutinya. Ia bermimpi terus mengulangi kejadian tadi dan malah jadi lebih buruk.

The Last Hope Part 3


Oxi terduduk melamun saat menatap laut yang luas. Harusnya ia memasang ekspresi terkesima lalu mendadak ia menangis bahagia sekaligus sedih karena belum menemukan kakaknya sesuai dengan naskah yang ada. Sekarang ia malah melamun, tatapannya kosong, tak sepatah katapun terucap dari bibirnya. Anehnya Sutradara Shin tidak menghentikan pengambilan gambar. Ia berkata pada Kameramen untuk tetap mengambil gambar.
“ Sutradara, bagaimana ini?”
“ Lanjutkan.”
“Apakah tidak sebaiknya cut saja?”
“ Tidak. Terus ambil gambarnya.”
“ Baiklah.”
Sekitar sepuluh menit kemudian, barulah sang Sutradara menghentikan pengambilan gambar.
“ Yak, cut!”

The Last Hope Part 2


The Last Hope
Hari pertama syuting, Oxi masih bertengkar dengan Bryan. Hanya karena masalah yang lalu, Oxi kesal setengah mati. Perkataan Bryan yang menyebutkan dirinya yang suka mencampuri urusan orang lain dan berniat menusuknya dari belakang benar-benar membuatnya sakit hati. Ia ingin Bryan minta maaf atas tuduhannya yang tak terbukti itu. Ia bisa bermain dalam film ini karena Presdir melihat kemampuannya bukan seperti dugaan Bryan kalau dia sengaja menghasut Presdir. Tapi lagi-lagi Bryan membuatnya tambah kesal dengan mengejek aktingnya setara kualitas pemain kelas tiga yang sama sekali tidak bagus. Perang dingin tak terhindarkan. Sampai akhirnya mereka tak mau memandang satu sama lain. Satu akan buang muka bila bertemu, dan satunya akan acuh seakan tidak melihat  siapapun. Suasana tegang  jadi meliputi seluruh kru.

The Last Hope Part 1


Prolog
Bryan dan Oxi sudah berteman semenjak mereka trainee. Mulanya Bryan suka menjahili Oxi yang termasuk anak lugu saat itu. Tapi lama-lama Bryan malah suka membantu Oxi. Oxi yang bercita-cita sebagai penulis film harus bersekolah di sekolah seni itu kalau ia ingin mewujudkan impiannya. Ia sangat asing tentang cara bernyanyi, menari, maupun akting. Tapi secara suka rela Bryan si anak tengil itu mau mengajarinya dari nol. Sampai suatu saat Oxi menemukan bakat aktingnya. Hari-hari mereka lalui bersama. Tak sampai hanya di situ ada cerita cinta yang membuat semuanya semakin rumit. Dan juga banyak masalah juga mewarnai perjuangan mereka selama trainee. Di masa-masa itu juga mereka mendapat sahabat-sahabat yang baik, seperti Marry, Atta, John, dan Julie.

Kisah 16 Hari


Kisah 16 hari
(Dimana aku tak dapat lagi menunggu lama)

Pagi ini aku bangun dengan malas, udara begitu dingin membuatku menggigil kedinginan., ku selimuti badanku tapi tetap saja aku masih kedinginan.  Aku merasa lelah sekali, semalam aku lembur membuat tugas yang harus aku kumpulkan hari Senin. Mataku rasanya lengket sekali dan tak mau terbuka. Tapi nenek malah memanggilku,....
  Shan, cepat bangun! Bibi kamu sudah datang. Kamu nggak mau dimarahin gara-gara malas bangun tidur kan? Cepetan bangun”.
“ Uuhhmmm, iya nek. Aku bangun, 5 menit lagi plis?”
“ ndak boleh!”
“ okeh,... whoooammmm,...”

Senin, 16 Januari 2012

Sepanjang Jalan

Pagi ini tampak berkabut, apalagi ditambah mendung membuat suasana makin dingin. Hal ini membuatku malas ke sekolah. Setengah hati rasanya meninggalkan kamarku yang nyaman. Tapi aku harus pergi ke sekolah, Kevin sudah menjemputku. Aku tak mau membuat dia menunggu lama. Jadi, aku bergegas ke luar rumah dan berangkat.
            “ Maaf agak lama, aku tadi agak terlambat bangun,” kataku sambil naik ke motornya.
“ Ok, ayo cepat berangkat. Dingin sekali di sini, jangan lupa pakai helmmu dan pegangan erat-erat,” katanya sebelum tancap gas.