Rabu, 29 Februari 2012

Indisch Pearl School (Love Story) Part 2


“ Dilaporkan menurut Badan Meteorologi dan Geofisika, perkiraan cuaca hari ini cerah hampir di seluruh kawasan nusantara. Tiutttt, pet!!!,” belum selesai ocehan Tessa Arimbi, presenter acara berita perkiraan cuaca. TV-nya cepat-cepat dimatikan Nadia dengan buru-buru. Ia bangun kesiangan. Jam dinding menunjukkan pukul 06.00. Tanpa membuang waktu, secepat kilat dia mandi dan bersiap. Padahal busnya berangkat pukul 06.30.

          Tak lama kemudian, ia berangkat dengan menggendong tas ransel yang penuh sambil membawa sandwhich dan sebotol jus. Segera di kayuhnya sepeda cantik ( nggak pakek “c” ) karena jarak rumah dan sekolahnya tidak terlalu jauh. Rumahnya terletak di Perumahan sederhana di balik Sekolah Indisch Pear, tapi dia harus memutar karena tidak ada jalan masuk dari belakang sekolah. Sampai di halaman sekolah, bus siap berangkat.




“ Pak, titip sepedanya, ya?” kata Nadia pada penjaga sekolah sambil meletakkan sepeda, lalu berlari masuk bus tanpa mendengarkan keluh dari penjaga sekolah.

          Nadia bergegas mencari tempat duduk. Di telusurinya bus dari depan sampai belakang. Terdengar suara-suara protes atas keterlambatannya. Salah satu yang terdengar ialah seorang dari mereka yang berkata, “Emang kamu ini siapa, membuat orang menunggu....”. dia juga menangkap pandangan-pandangan mata yang mencemooh dirinya. Dengan nafas yang masih terengah-engah, dia duduk di kursi paling belakang karena semua kursi telah penuh. Setelah duduk, satu per satu bus terlihat mulai berangkat. Tak lupa dengan makanan yang dibawanya, ia langsung menyantapnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar